• RSS
  • Facebook
  • Atambua
  • Betun
  • Ende
  • Kalabahi
  • Kefa
  • Kupang
  • Maumere
  • Menia
  • Waibakul
  • Waikabubak
  • Waingapu
  • So'e
  • Tambolaka

SpicyTricks

atambua
  • Beranda
  • Hukum
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Lingkungan
  • Ekonomi
  • Budaya
  • Agama

Baa
Victorynews-media.com, Rote Ndao. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao dinilai tidak becus mengurus nasib tenaga honor kategori satu (K-1). Pasalnya, masalah 131 tenaga honor K-1 sudah lama terjadi, namun hingga kini tak kunjung diselesaikan oleh Pemkab Rote Ndao.
Hal itu disampaikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Rote Ndao Yosia Ardianus Lau dalam rapat dengar pendapat Gabungan Komisi DPRD dengan Pemkab Rote Ndao di gedung DPRD setempat, Senin (27/5).
Yosia Lau mempertanyakan kinerja mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Rote Ndao sudah banyak menggunakan keuangan daerah untuk berkonsultasi ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pedayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN dan RB). Sebab, konsultasi itu tak membuahkan hasil.
“Saya heran Kepala BKD selalu melakukan perjalanan dinas ke pusat untuk kepentingan itu, tetapi kok tidak ada hasilnya. Lalu yang dilakukan di sana apa?” imbuhnya.
Ketua Komisi A Frans Nitanel Mooy juga meminta Kepala BKD Jonas Selly menjelaskan persoalan yang melatarbelakangi tidak lolosnya 131 honorer itu dalam proses (audit tujuan tertentu) ATT.
Namun menurut Jonas Selly, sesuai hasil ATT semua tenaga honor K-1 dinyatakan bermasalah karena tersandung dokumen pengangkatan dan pembiayaan honornya.
Kewenangan Pempus
Sementara itu, Sekretaris Daerah Rote Ndao Alfred Zacharias mengatakan, kewenangan untuk menentukan lulus dan tidaknya tenaga honor adalah Pemerintah Pusat. Dalam prosesnya, Pemkab Rote Ndao dan  tenaga honor hanya menyiapkan persyaratan yang diminta untuk dilengkapi. Pemkab juga telah memfasilitasi para tenaga honor untuk melengkapi persyaratannya.
Menurutnya, berdasarkan daftar nominatif yang diperoleh dari BKN, terdapat 131 orang yang lolos dan direkomendasikan untuk diuji publik. Setelah uji publik, tidak ada sanggahan dari masyarakat kepada Pemerintah Pusat melalui Pemkab Rote Ndao.
Akan tetapi, dalam perjalanannya ada tenaga kontrak yang komplain langsung ke BKN sehingga BPKP melakukan ATT terhadap komplain itu. Berdasarkan ATT, 131 honorer tersebut dinyatakan tidak lolos karena administrasi pengangkatan dan pembiayaannya tidak memenuhi syarat.
Pada kesempatan itu, salah satu honorer K-1, Lea Kase menyatakan, masalah tersebut sebenarnya sudah bisa diselesaikan beberapa waktu lalu bila Pemkab Rote Ndao bekerja secara baik. Sebab berdasarkan hasil verifikasi dan validasi dari BKN, ada 127 orang yang dinyatakan memenuhi syarat termasuk dirinya. Namun ketika hendak dilakukan uji publik, Pemkab justru mengubah nama-nama yang ada dalam surat keputusan sesuai hasil verifikasi dan validasi.
“Jika BKD bekerja sesuai aturan, masalahnya pasti sudah selesai. Kan aneh, dari 127 orang tersebut waktu hendak diuji publik BKD mencoret 15 nama dan digantikan dengan 19 orang lainnya sehingga kami komplain ke BKN. Dan hasilnya sampai saat ini tidak ada solusi akhir dari Pemkab Rote Ndao,” ujarnya.

Sumber : http://www.victorynews-media.com
jonas selly
Moral politik.com. Merasa dibohongi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao di bawah kepemimpinan Bupati Rote Ndao, Drs.Leonard Haning, MM dan Wakil Bupati, Marthen L. Saek, sebanyak 50 tenaga honorer daerah di lingkup Pemkab Rote Ndao menduduki gedung DPRD Kabupaten Rote Ndao, Senin (27/5) kemarin.
Ke 50 tenaga Honda tersebut menduduki gedung DPRD Rote Ndao karena tidak terakomodir dalam database tahun 2013, padahal mereka sudah memenuhi kriteria untuk lolos data base tahun 2013.
Pantauan wartawan dalam rapat dengar pendapat antara Pemerintah Kabupaten  Rote Ndao dan DPRD, ke 50 tehaga honda tersebut menyampaikan kekecewaan mereka terhadap ulah mantan kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Rote Ndao, Jonas Selly.
Dalam rapat tersebut, para tenaga honorer itu mengungkapkan, dalam tahun 2012 lalu Jonas Sely telah berjanji akan mengurus tenaga honorer yang tidak lolos data base hingga bisa terakomodir. Namun pihaknya kaget saat di tahun 2013 Badan Kepegawaian Nasional menyatakan mereka tidak lolos data base tahun 2013.
Salah seorang tenaga honorer, Noh Tonis pada kesempatan itu mengaku kecewa dengan kebijakan Pemkab Rote Ndao tersebut.  Padahal kata, Noh, pada 18 April 2012 lalu, pihak BKD dan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao berjanji akan memfasilitasi untuk mengadukan persoalan itu ke BKN diJakarta.
Namun saat itu, lanjutnya, Kepala Bidang Pengembangan di BKD Rote Ndao, Swengly Pello memberitahukan bahwa rencana keberangkatan ke Jakarta batal disebabkan masih banyak urusan lain.
“Kami diminta untuk tidak berangkat sendiri ke Jakarta atau ke BKN Pusat,”katanya.
Kepada wartawan, pihaknya merasa kecewa dengan pemkab Rote Ndao. Bahkan Pemkab Rote Ndao dianggapnya telah mengorbankan masa depan mereka.
“Kami minta Pemerintah Kabupaten Rote Ndao bertangungjawab sebab akibat dari kelalaian pemerintah, kami menjadi korban. Kami merasa dibohongi Kepala BKD dan Pemkab Rote Ndao terkait pengurusan dokumen kami ke BKN Pusat di Jakarta!” tandasnya.
Menurutnya, dalam TA.2012 lalu, pihaknya sempat melaksanakan pertemuan dengan Bupati Rote Ndao, Drs.Leonard Haning, MM membahas pengurusan CPNS yang tidak masuk data base. Saat itu disepakati pihaknya bersama Pemkab Rote Ndao bersama-sama berangkat ke Jakarta.
“Semua itu hanya sekedar janji tanpa realisasi. Akibat kelalian pemerintah kami tidak lolos!” kesalnya.

Sumber : http://moral-politik.com
rote-ndao
Moral politik.com. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Rote Ndao memberikan ultimatum ke Pemerintah Kabupaten Rote Ndao agar segera menuntaskan persoalan tenaga honorer daerah (honda) yang belum masuk database.
Hal ini diungkapkan sejumlah wakil rakyat di gedung DPRD Rote Ndao dalam rapat dengar pendapat antara Pemkab Rote Ndao, DPRD serta tenaga honorer di gedung DPRD Kabupaten Rote Ndao, Senin (27/5).
Anggota DPRD Kabupaten Rote, Adrianus Pandie pada kesempatan itu sesalkan kebijakan Pemkab Rote Ndao yang belum menuntaskan persoalan itu. Padahal, kata Pandie, masalah tenaga honorer itu telah berlangsung sejak tiga tahun yang lalu.
“Akibat ketidakbecusan pemerintah dalam menangani persoalan ini menyebabkan banyak tenaga honorer tidak masuk data base. “Pemerintah harus bertangungjawab, sudah saatnya menuntaskan persoalan ini bukanya baru mencari solusi atau hanya sekedar berjanji,” tegasnya.
Menurut Pandie, persoalan itu telah berlangsung tiga tahun, namun pihaknya menyayangkan sikap Pemkab Rote Ndao yang terkesan ugal-ugalan dan tak becus dalam menyikapi permasalahan itu.
“Ini semua terjadi karena kelalaian Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dan Badan Kepegawaian Daerah sehingga para tenaga honorer kita tidak terakomodir. Persoalan ini sudah berlangsung tiga tahun namun belum diselesaikan sehingga patut dipertanyakan kinerja pemerintah. Selama ini sering pergi-pulang Jakarta, kenapa persoalan ini tidak diselesaikan,” katanya.
Senada dengan dia, anggota DPRD dari Partai Golongan Karya, Adri Lau meminta Pemkab Rote Ndao bertanggungjawab.
“Ini semua terjadi karena kelalaian pemerintah  sehingga harus segera mengupayakan solusi yang terbaik bukan hanya sekedar terus berdiplomasi dan menjelaskan sesuatu yang tidak penting,” katanya
Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao,  Drs.Alfred Zakarias,M.Si mengatakan, pihaknya akan bersama DPRD beserta tenaga honorer  menuntaskan hal ini.
Bahkan Zakarias juga berjanji dan memastikan persoalan itu akan tuntas pada bulan Juni mendatang. Pada kesempatan itu, pihaknya meminta para tenaga honorer supaya terus proaktif untuk mengumpulkan kembali dokumen guna pengurusan ke BKN pusat.
“Yang jelas bulan Juni nanti, kami akan upayakan semuanya sudah beres,” katanya.


Sumber : http://moral-politik.com
Ba'a
Rote Ndao (Inmas) – “Masyarakat Rote Ndao hendaknya menjatuhkan pilihan politiknya kepada calon pemimpin Rote Ndao yang memiliki integritas kepribadian yang baik. Calon pemimpin yang baik adalah mereka yang telah menunjukkan kapasitasnya sebagai orang yang bersih dari KKN, tidak arogan selama tampil dalam periode kepemimpinannya dalam segala tingkat organisasi dan bersih dari penyakit social seperti perselingkuhan dan kecanduan alkohol atau sejenisnya”. Demikian harapan sekaligus himbauan yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Rote Ndao, Mikael Pah, S.IP.
Selama ini masyarakat kita kerap kali diterpa berbagai isu tentang semakin bertumbuh suburnya perilaku Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Menurut Mikael Pah, KKN akan sulit dibasmi karena ia merupakan hadiah atau balas jasa dari persekongkolan politik selama proses pilkada berlangsung. “Arogansi kekuasaanpun terlihat begitu terang benderang di depan jajaran aparatur pemerintahan, belum lagi perilaku selingkuh yang kian merebak di tengah masyarakat sebagai salah satu factor pemicu meningkatnya angka perceraian. Dirinya mensinyalir ada beberapa oknum PNS yang telah pisah ranjang bahkan berada di ambang perceraian, namun belum ada tindakan dari pimpinannya. Ini mengindikasikan lemahnya kontrol dan komitmen moral pimpinan untuk mengajarkan perilaku sehat sosial kepada bawahannya. Bahkan menurut Mikael Pah, dosa selingkuh lebih berbahaya dari perilaku KKN. Boleh jadi dari selingkuh lahirlah perilaku KKN, tambahnya. Hal-hal ini, secara kasat mata memperlihatkan kepada kita bahwa pemerintah dan pimpinan belum dapat berbuat banyak untuk pembangunan kesejahteraan masyarakatnya.
Lebih lanjut, Mikael Pah menandaskan bahwa pemimpin yang baik untuk Rote Ndao ke depan adalah pemimpin yang takut akan Allah, yang setia melaksanakan perintah Tuhan. Pemimpin yang sudah memberikan bukti bahwa apa yang dikatakan telah sesuai dengan perbuatannya. Pemimpin yang taat beragama dan bukan orang yang suka berbohong.
Sebagai putra Rote Ndao, Mikael Pah mengharapkan munculnya figur pemimpin Rote Ndao yang dapat memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Ia menyadari bahwa criteria tersebut mungkin sulit ditemukan pada zaman ini ketika uang menjadi segalanya untuk meraih tahta dan kekuasaan. Namun jika masyarakat pemilih menyadari betul akan harapan lahirnya pemimpin Rote Ndao yang berkwalitas maka criteria tersebut harus menjadi ukurannya.
Mikael Pah yang gagal lolos sebagai calon wakil bupati karena ketiadaan kendaraan politik menyatakan bahwa secara perlahan masyarakat kita telah bergerak menjadi pemilih yang cerdas, yang tidak terjebak pada pertimbangan ego geografis atau etnosentris dan tidak terlena dengan politik uang serta kampanye hitam. Hal ini memberi sinyal akan munculnya pilihan pada figur yang berkwalitas yang menjawabi criteria tersebut. Mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Sumba Timur ini berkeyakinan bahwa di antara paket cabup dan cawabup yang telah mendaftarkan diri setidaknya pasti ada yang dapat menjangkau criteria-kriteria pemimpin yang berkwalitas.
Mikael Pah juga mengungkapkan permohonan maafnya kepada masyarakat dan simpatisan yang selama ini telah mengharapkan dirinya tampil sebagai pemimpin Rote Ndao periode 2013-2018. “ Kita boleh berusaha dan merencanakan, tetapi Tuhan mungkin berkehendak lain”, tandasnya.

Sumber : http://ntt.kemenag.go.id
Postingan Lama Beranda

Batu Termanu

Batu Termanu

Fan Page

Berita Terbaru

Berita Populer


Politik


Budaya


Hukum


Lingkungan

Ba'a News © 2013. Situs Pribadi Orang Rote.